Hari Keempat: Filosofi Pangan dan Pertanian dalam Pembelajaran

Oleh: Dian Pratiwi Pribadi

Datang ke Bija Vidyapeeth, buatku serasa kembali ke masa 15-20 tahun yang lalu saat ‘mengambil hikmah’ di Fakultas Pertanian, serta 5-10 tahun yang lalu saat ‘tersesat di jalan yang benar’ bersama kawan-kawan aktivis pertanian. Aku belajar pertanian mulai dari hal-hal mendasar seperti biologi, sampai hal-hal teknis seperti budidaya tanaman dan cara membuat pestisida alami dalam lima hari pertama disini. Namun satu soal yang sangat mendasar tentang dunia pangan dan pertanian tidak kutemukan di Fakultas Pertanian. Soal itu adalah soal-soal filosofis, tentang kemanusiaan, tentang kebahagiaan, tentang kehidupan, dan tentang kedamaian seputar pangan dan pertanian. Bila di Fakultas Pertanian 20 tahun yang lalu ada Jurusan Tanah, Budidaya, Hama dan Penyakit, serta Sosial-Ekonomi, dan sekitar 10 tahun terakhir ada Jurusan Agribisnis dan Agroteknologi, disitu hampir tidak ada pembahasan soal-soal filosofis itu. Pembahasan hanya berkutat pada teori-teori dan praktek-praktek. Mengapa harus pakai teori itu, mengapa ada praktek seperti ini? Itu tidak ada. Bagiku, pembahasan menjadi dangkal dan nir makna.

Di Bija Vidyapeeth, pembahasan soal pertanian berangkat dari soal benih, tanah, dan air dalam rangka menuju kedaulatan pangan. Dan seluruh aspek tersebut berangkat dari skala rumah tangga, regional, negara, sampai skala universal yaitu bumi. Misalnya di hari keempat Kursus Agroekologi disini membahas tentang berbagai pola tanam seperti rotasi tanaman, penanaman sistem lorong, dan penanaman campuran, serta berbagai jenis tanaman penutup tanah dan bahan pestisida alami. Dalam setiap kesempatan di seluruh pembahasan, baik di awal, tengah maupun akhir, selalu disampaikan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati melalui pertanian organik. Bahwa suatu lahan dengan lebih banyak jenis tanaman akan mengalami lebih sedikit kerusakan oleh hama dan penyakit, karena itu artinya lahan tersebut telah seimbang secara ekologis, yang ujung-ujungnya juga lebih menguntungkan secara ekonomis.

Satu contoh nyata ditunjukkan oleh Joharipin, seorang petani ahli pemuliaan padi dari Indramayu, Jawa Barat. Mas Jo, begitu dia akrab dipanggil, selain ahli menyilangkan berbagai varietas padi, juga mengembangkan pertanian ekologis di lahannya. Di sawahnya, Mas Jo menerapkan minapadi sekaligus pertanian campuran dan rotasi tanaman. Tanaman padi sebagai tanaman utama ditanam setahun dua kali dirotasi dengan palawija, berada di tengah-tengah sawah seluas 0,5 hektar yang dikelilingi wilayah berair tanpa tanaman sebagai ruang bagi ikan berkembang biak, yang dikelilingi lagi oleh beberapa bedengan beragam jenis sayur mayur. Ikan menyediakan kotorannya untuk pupuk bagi tanaman disekitarnya, sedangkan serangga pemakan padi dan sayur mayur saling makan-memakan sehingga tercipta keseimbangan tanpa perlu dikendalikan oleh pestisida.

Aku bersama Luis dari Puerto Rico

Aku bersama Luis dari Puerto Rico

Kembali ke awal hari sebelum perkuliahan dimulai di Bija Vidyapeeth, selalu ada sesi Lingkaran Pagi dimana seluruh peserta berkumpul di ruang terbuka untuk menyiapkan diri mengikuti rangkaian sesi selanjutnya selama sehari. Sesi ini awalnya diisi dengan yoga atau meditasi selama sekitar dua menit, kemudian permainan yang keduanya bertujuan untuk menyegarkan hati dan pikiran. Bukannya tanpa tujuan sesi ini dilangsungkan, justru seringkali filosofi dari pangan dan pertanian disampaikan secara lebih menyenangkan dan mendalam. Adalah seorang kawan dari Puerto Rico, Meksiko, bernama Luis Enrique Gonzalez mengasuh sesi permainan di hari keempat ini. ‘The Golden Spiral’ atau Pilin Emas nama permainannya. Dari 56 peserta kursus yang membentuk lingkaran dipilih 10 orang dari berbagai wilayah untuk berdiri di tengah lingkaran untuk membentuk garis lurus sambil saling berpegangan tangan. Aku berada di ujung akhir garis, karena sedang mengandung. Ini merefleksikan tradisi kuno dimana benih tanaman melewati masa ke masa sehingga akhirnya punah dan menghilang. Kondisi ini juga bisa diartikan sebagai suatu ekosistem yang lemah dan rentan kehancuran dimana bila salah satu tangan dilepaskan, misalkan akibat perlakuan pestisida dan bahan-bahan kimia lainnya, maka rusaklah ekosistem itu. Sebuah garis dengan satu akhir itu berbahaya, sebab tanpa pertalian, tanpa akar, hingga menjadi mudah bagi pihak yang berniat buruk untuk masuk dan mengintervensi. Selanjutnya aku tetap berada di tengah sedangkan kawan-kawan lain saling bergandengan tangan membentuk sebuah pilin mengeliliku sampai keseluruh 56 orang masuk kedalam pilin emas dan Luis menjadi orang terakhir. Seluruh peserta merasa sangat takjub dengan proses pembentukan pilin ini sampai akhir terbentuknya. Kelihatannya tak satupun yang punya pengalaman mengikuti permainan ini, hingga hanya bisa tercengang. Aku sendiri sungguh merasa terharu berada ditengah-tengah pilin, serasa bagai matahari pusat tata surya, pusat alam semesta. Kondisi dimana tiap orang tiap waktu secara bersambungan saling terhubung, sulit terpisahkan, membentuk pilin dengan hatinya yang menyatu ditengah pusat pilin. Rasa haru dan takjub menggambarkan kebahagiaan dan kedamaian karena kami bersatu dalam kebersamaan. Pilin Emas secara mendasar menggambarkan sebuah ekosistem yang terhubung satu sama lain, sebuah sistem yang dinamis, terulang dan saling mendukung, baik manusianya maupun makhluk hidup lainnya. Inilah yang menjadi filosofi pangan dan pertanian sebagai pembelajaran kami disini.

Kebun A-Z setengah jadi hasil karya peserta Kursus Agroekologi membentuk logo Navdanya

Kebun A-Z setengah jadi hasil karya peserta Kursus Agroekologi membentuk logo Navdanya

Pasca sesi Lingkaran Pagi adalah sesi Shramdaan yang artinya kerja bakti. Aku yang berada di grup dua di hari keempat bertugas di Kebun A-Z, kebunnya para peserta Kursus Agroekologi yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk logo Navdanya, organisasi nirlaba penyelenggara kursus ini dimana Vandana Shiva direkturnya. Aku dan anggota grup lainnya membersihkan kebun dari rerumputan untuk persiapan tanam. Kerja bakti secara filosofis merupakan praktek sosial yang patut dilestarikan di komunitas manapun. Serupa dengan makna Pilin Emas, kerja bakti menggambarkan bahwa antar manusia tidak bisa lepas satu sama lain, begitu juga dengan lingkungannya, ada kebutuhan untuk saling menguntungkan dan menguatkan. Aku belum tahu bagaimana hasil akhir dari kebun ini. Yang terpenting adalah dalam kerja bakti juga terkandung filosofi yang semakna dengan pangan dan pertanian.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s