Hari Kesepuluh: Tanah dan Kehidupan

Oleh: Erlin Goentoro

Hidup di kota dan terobsesi dengan kebersihan, tanah sering saya sederhanakan sebagai sesuatu yang kotor. Mungkin itu juga sebabnya hidroponik menjadi sesuatu kegiatan menanam yang sedang naik daun akhir-akhir ini di perkotaan. Menanam dengan hidroponik terasa lebih modern, bersih dan menjanjikan hasil tanaman yang bagus penampilannya.

Lalu kenapa kita perlu peduli dengan kondisi tanah? Dan kenapa kita tetap perlu menanam tanaman kita di medium tanah? Selama satu minggu ini, A to Z Agroecology memfokuskan pengajarannya di tanah. Hampir semua peserta kursus merasakan penghargaan dan kekaguman yang baru terhadap tanah. Berikut beberapa hasil rangkuman singkat saya tentang tanah. Semoga bisa membuat teman-teman menjadi lebih menghargai tanah juga yah 🙂

Asal Usul Tanah

Selama berjuta-juta tahun, bumi kita ini tidak memiliki tanah. Bumi hanya terdiri dari udara, air, dan gunung batu. Proses utama pembentukan tanah terjadi melalui gesekan terus menerus air dan gunung batu yang secara perlahan mengikis dan menciptakan partikel-partikel tanah.

Selain itu, berbagai proses alam seperti gempa bumi, perubahan iklim, dan pembentukan es juga turut membantu pembentukan tanah. Rumput laut dan jamur juga berperan dengan mengeluarkan asam kimia yang memudahkan penguraian batu-batuan. Proses alami ini berlangsung sangat lama, sekitar 500-1000 tahun untuk membuat 1 inch (2.54cm) tanah!

Komposisi Tanah

Apa saja isi tanah? Berikut komposisi tanah yang subur:

  1. Mineral (45%)

Tanah terdiri dari berbagai partikel dari gunung batu mulai dari yang besar sampai ke kecil. Komposisi non-organik utama dari tanah terdiri dari pasir (sand), silt, dan tanah liat (clay). Partikel tanah ini memiliki kandungan mineral yang sangat kaya, namun mineral ini tidak bisa diproses langsung oleh tanaman.

  1. Udara (20-30%)
  2. Air (20-30%)
  3. Materi Organik (5%)

Materi organik ini terdiri dari berbagai tanaman dan hewan yang mati dan mengalami proses dekomposisasi secara natural. Pada hutan dan area yang masih belum disentuh oleh peradaban, komposisi materi organik di tanah akan sangat tinggi. Pada tanah yang menggunakan pertanian konvensional berbasis bahan-bahan kimia, materi organik di dalam tanah bisa menyusut hingga 0.5 – 2% saja.

Day 10b

Bagian tanah dengan materi organik yang sangat tinggi ini dinamakan humus. Warnanya coklat tua seperti warna kopi dan memiliki molekul karbon yang memiliki kandungan elektrik. Bagi yang tertarik, teman-teman bisa mencoba membuat lampu bertenaga humus.

Kehidupan dalam Tanah

Day 10cLalu apakah hanya materi diatas saja yang ada di dalam tanah? Ternyata selain materi non senyawa diatas, ada banyak sekali kehidupan di dalam tanah. Berbagai macam mikroba hidup dalam tanah. Beberapa yang mudah diidentifikasi adalah bakteria, jamur, protozoa, nematoda, arthropoda dan teman yang sering kita jumpai, cacing tanah. Mereka hidup dengan satu tujuan, makan! Tanah menyediakan berbagai materi organik yang sangat enak buat makhluk hidup mikroba ini, selain itu, mikroba-mikroba ini juga saling makan satu sama lain.

Sebelum ada yang berteriak dan menjerit jijik, perlu diketahui bahwa di tubuh kita sendiri ada 10 triliun bakteri. Lebih banyak daripada jumlah sel unik tubuh yang hanya berjumlah 1 triliun. Bakteri yang ada di dalam tubuh kita itu ternyata juga bisa ditemukan di dalam tanah.

Tidak seperti di iklan pasta gigi, bakteri itu tidak semuanya buruk. Banyak sekali bakteri-bakteri yang krusial diperlukan oleh tubuh kita agar bisa berfungsi secara normal dan sehat. Bagi yang tertarik, teman-teman bisa menonton video dibawah ini bertajuk ‘Human Microbiome Project’ yang menjelaskan tentang pentingnya mikroba di dalam tubuh melalui animasi yang cantik.

Ini embed videonya: http://www.youtube.com/watch?v=5DTrENdWvvM

Selain itu, riset juga sudah menemukan bahwa bakteri Mycobacterium vaccae yang ditemukan di dalam tanah akan mengaktifkan keluarnya hormon serotonin dari otak kita. Serotonin ini adalah hormon yang berfungsi untuk membuat kita bahagia, anti-depresi yang alami, serta meningkatkan imunitas tubuh. Jadi berkebun bisa membuat kita lebih bahagia.

Nah, sama seperti tubuh yang menjadi suatu ekosistem bagi para bakteri, tanah juga menjadi suatu ekosistem kehidupan bagi para mikroba. Bahkan banyak ilmuwan yang beranggapan bahwa tanah adalah salah satu ekosistem yang paling kompleks dan masih belum begitu dipahami. Riset di bidang biologi tanah sendiri baru mengalami perkembangan di 10-15 tahun yang terakhir. Semakin banyak hal yang baru dan mengagumkan tentang kehidupan di dalam tanah yang ditemukan di satu dekade terakhir.

Mutualisme Tanaman dengan Mikroba

Ketika para penghuni tanah hanya berfokus untuk mengisi perut mereka masing-masing, ada efek samping yang dapat kita nikmati dari aktivitas kehidupan mereka. Tanah menjadi memiliki tekstur yang lebih bagus, memiliki rongga-rongga udara yang penting untuk respirasi dan juga mampu menampung air dengan jumlah yang banyak. Penelitian mengatakan bahwa lapisan humus bisa menampung air setidaknya 40x lipat dari beratnya. Kemampuan menyerap air ini sangat penting agar tanah pertanian tidak membutuhkan air yang banyak untuk irigasi. Selain itu, tanah juga bisa berperan untuk mencegah banjir pada saat hujan lebat!

Para mikroba ini juga mengurai berbagai mineral dan bahan organik kompleks menjadi nutrisi yang siap dikonsumsi oleh tanaman. Minimum ada 21 macam nutrisi (beberapa ilmuwan bahkan menyatakan ada 40-60 macam nutrisi) di dalam tanah yang bisa tersedia tanaman oleh jasa mikroba.

Ada banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dan tidak bisa didapatkan dengan cara lain secara alami kecuali melalui mikroba. Misalnya, Nitrogen. Udara memiliki kandungan Nitrogen sebanyak 70% tetapi tanaman tidak bisa mengambil Nitrogen langsung dari udara. Tanaman hanya bisa bisa menyerap Nitrogen yang dihasilkan oleh mikroba di dalam tanah.

Hubungan simbiosis mikroba dan tanaman ini bisa terlihat jelas bila kita mengamati bagian akar tanaman. Tanaman mengeluarkan bahan kimia di akar untuk menarik kehadiran para mikroba yang baik dan menguntungkan bagi mereka. Anggap saja seperti bunga hendak menarik kehadiran kupu-kupu, atau seorang ibu yang menyajikan kue kesukaan anaknya dengan tujuan untuk menyuruh anaknya menyelesaikan PR. Mikroba yang berguna untuk tanaman ini hadir, mengkonsumsi makanan dari sang tanaman, dan sebagai balas jasa, tanaman memperoleh nutrisi dan perlindungan akar tanaman dari mikroba yang merugikan.

Rhizosphere, area dengan jarak tidak lebih dari 1-2mm dari akar dimana interaksi mikroba dan akar terjadi secara intensif

Rhizosphere, area dengan jarak tidak lebih dari 1-2mm dari akar dimana interaksi mikroba dan akar terjadi secara intensif

Hubungan yang lebih erat bisa juga diamati di endomycorrhizae, jamur (fungi) yang hidup di dalam akar tanaman dan bisa memperpanjang jarak serap nutrisi dan air akar tanaman hingga bermeter-meter. Selain itu, para ilmuwan sendiri baru menemukan bahwa tanaman bisa berkomunikasi dengan tanaman lain melalui endomycorrhizae ini!

Fungi yang berada di dalam akar tanaman (endomycorrhizae)

Fungi yang berada di dalam akar tanaman (endomycorrhizae)

Nah, mungkin sekarang bisa menjawab pertanyaan mengapa kita tetap sebaiknya menanam dengan menggunakan medium tanam tanah ya? Alam sudah menyediakan tanah dan ekosistem yang begitu kompleks untuk menyediakan beragam nutrisi alami. Meski hidroponik dan aquaponik terkesan mengasyikkan, namun sepertinya medium tanah dan sistem pertanian ekologis tetap akan menghasilkan pangan yang lebih beragam dan alami nutrisinya.

Kondisi Tanah Sekarang

Mayoritas sistem pertanian kita sekarang adalah pertanian konvensional yang sangat mengandalkan berbagai bahan kimia untuk pupuk dan pestisida. Bahan-bahan kimia ini berdampak terhadap menurunnya bahan organik dan mikroba di dalam tanah. Tanah kita tidak dapat lagi memberikan nutrisi alami ke tanaman. Akhirnya para petani harus meningkatkan penggunaan pupuk kimia untuk mempertahankan hasil panen. Siklus ini berlanjut terus hingga tanah menjadi rusak.

Menghilangnya mikroba di dalam tanah juga membuat tekstur tanah tidak baik. Tanah menjadi padat dan tidak mampu lagi menampung air. Akibatnya penggunaan air di pertanian konvensional menjadi jauh lebih banyak. Saat ini, 70% penggunaan air adalah dari sektor pertanian. Kondisi tanah semacam ini juga memberikan ancaman banjir dan erosi tanah bila hujan lebat terjadi.

Tanah dan Sistem Pertanian Ekologis

Christopher dan Marylin dari Hummingbird Project adalah narasumber kami minggu ini. Mereka adalah pasangan suami istri ahli tanah yang bekerja di daerah-daerah dengan kondisi tanah yang rusak. Mereka pergi ke Afrika dan daerah-daerah suicide belt di India untuk mengajak para petani mengembalikan kesuburan dan kehidupan di tanah melalui pemberian pupuk-pupuk alami. Pengembalian materi organik dan mikroba kedalam tanah adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kehidupan dan ekosistem tanah ke kondisi alaminya.

Sistem pertanian ekologis adalah sistem yang menghargai alam dan proses alaminya. Pertanian ekologis tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai stimulan pertumbuhan dan menghargai tanah sebagai suatu ekosistem yang hidup.

Pertanian ekologis memberikan solusi untuk penghematan air, peningkatan kualitas pangan dan lingkungan. Di “Agriculture at a Crossroads”, hasil kolaborasi 3 tahun yang melibatkan 900 partisipan dan 110 negara, disimpulkan bahwa cara pertanian yang bisa berkelanjutan untuk masa depan adalah pertanian ekologis.

Penutup

Tanah tidak hanya sekedar sebuah kotak hitam medium tanaman. Tanah adalah sesuatu yang hidup, sebuah ekosistem kompleks yang disediakan alam untuk memberikan nutrisi yang cukup untuk semua makhluk hidup.

Maka, marilah kita mulai lebih menghargai dan menjaga kesehatan tanah! Apabila teman-teman ingin belajar lebih mengenai tanah, dibawah ini kami sertakan referensi mengenai tanah yang menarik. Teman-teman juga bisa bertanya ke Mantasa langsung, kami akan berusaha menjawab sebisanya. Terimakasih untuk waktunya!

Referensi:

Symphony of the Soil: film dokumentari tentang tanah

Theory of Microbes oleh Jeff Lowenfels: buku yang menjelaskan lebih jauh tentang memaksimalkan fungsi mikroba untuk kesuburan tanah

The Soil Will Save Us oleh Kristin Ohlson: buku yang menjelaskan bagaimana mengembalikan tanah ke ekosistem alami akan membantu memperbaiki kondisi lingkungan

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s