Hari Ketiga: Hak Tanaman untuk Berotasi

Oleh: Anie Asriani

Pengamatan lapangan, mengidentifikasi berbagai jenis tanaman yang dengan mudah didapat disekitar yang berguna untuk pestisida dan herbisida alami. Photo credit: Anie

Pengamatan lapangan, mengidentifikasi berbagai jenis tanaman yang dengan mudah didapat disekitar yang berguna untuk pestisida dan herbisida alami.
Photo credit: Anie

Hari ketiga, kami memasuki materi tentang rotasi tanaman (crop rotation), cover crop, penggolongan tanaman serta pengenalan pestisida dan fungisida alami atau berbahan tanaman/tumbuhan. Materi hari ini terlihat lebih berbicara tentang praktek dan juga berbagi informasi antar para praktisi atau peserta yang berprofesi sebagai petani yang menerapkan di lahan mereka masing-masing.

Pada dasarnya semuanya berotasi. Bumi kita berotasi, manusia berotasi, dalam pekerjaan kita menemui rotasi jabatan, dan tanaman pun memiliki “hak”nya untuk berotasi.

Mengapa kita harus merotasi (pergantian) tanaman kita dalam kurun waktu tertentu? Beberapa jawaban yang diberikan terkait hal itu yaitu karena rotasi tanaman mampu untuk mengatasi penyakit, dapat menyehatkan tanah, reproduksi, mengatasi gulma, menjadi tempat berkembangnya binatang-binatang/biodiversity, menyeimbangkan antara pest dan predator. Salah satu alasan lainnya yang cukup berpengaruh adalah terkait faktor ekonomi. Yah, faktor kesejahteraan petani, pemasukan, income. Jika rotasi tanaman dilakukan, ini dapat memperkaya sumber-sumber penghasilan para petani, tentu saja dengan melihat struktur tanah itu sendiri. Di beberapa tempat di Indonesia saat ini, masih menerapkan pertanian yang hanya mengandalkan satu sumber penghasilan, dari tanaman yang sama setiap tahun, tanpa memikirkan sumber dari tanaman lainnya. Pada akhirnya tidak meningkatkan ekonomi masyarakat, bahkan pada kasus-kasus tertentu, petani mengalami kerugian.

Pohon klerak, atau 'reethe' dalam bahasa Hindi. Memiliki berbagai macam fungsi, mulai dari deterjen alami, pembersih rambut hingga pestisida. Photo credit: Anie

Pohon klerak, atau ‘reetha’ dalam bahasa Hindi. Memiliki berbagai macam fungsi, mulai dari deterjen alami, pembersih rambut hingga pestisida.
Photo credit: Anie

Hal lainnya yang penting untuk diperhatikan yaitu membedakan/mengelompokkan tanaman tersebut. Begitu banyak tumbuhan disekitar kita sehingga penting untuk mengetahui sifat masing-masing tanaman karena setiap tanaman dapat memiliki fungsi yang berbeda. Dari sini juga bisa diketahui sejauh mana nutrisi yang dihasilkan oleh satu tanaman yang bisa mempengaruhi atau memberi nutrisi pada tanaman lainnya. Ini menjadi pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi para praktisi/petani untuk bisa melihat setiap tanaman sebagai sesuatu yang bisa saling menunjang, saling menguntungkan.

Begitu banyak pengelompokan tanaman, sebenarnya bisa menjadi bahan pupuk alami yang setara dengan bahan kimia (NPK) produksi perusahaan-perusahaan. Masalahnya adalah, apakah praktisi/petani mau menerimanya dan menerapkan untuk tanamannya? Pola pikir kita biasanya menginginkan proses yang cepat meski itu berarti menggunakan bahan kimia.

Daun lasunia yang memiliki aroma seperti bawang putih. Daun ini juga mampu berperan sebagai pestisida alami. Photo credit: Anie

Daun lasunia (Mansoa alliacea) yang memiliki aroma seperti bawang putih. Daun ini juga mampu berperan sebagai pestisida alami.
Photo credit: Anie

Pengenalan pestisida alami yang berasal dari tumbuhan yang berada disekitar tempat pembelajaran sangat membuka pengetahuan bagaimana seharusnya kita mengenal lingkungan kita sendiri dan memanfaatkannya untuk kebaikan kita. Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah mau mengenal dan memanfaatkannya atau sekedar mencari jalan yang cepat menggunakan bahan kimia tanpa memperdulikan “harga kesehatan” yang harus dibayar karena faktor kimia pada makanan.

Apa yang didapatkan kali ini sangat membantu bagi peserta/praktisi/petani untuk tetap berada dilingkaran kealamian tanam-tanaman, memanfaatkannya untuk kesejahteraan, peningkatan ekonomi sekaligus tetap menjadi teman baik bagi tanaman dengan memanfaatkan bahan alami dari tanaman itu sendiri untuk melawan berbagai kendala yang dihadapi.

Tanaman mengajarkan kepada manusia bagaimana bisa saling membantu. Tolong- menolong antara satu dengan lainnya, dengan memberikan nutrisi antara satu tanaman dengan tanaman lainnya, bagaimana bisa hidup berdampingan berada di area yang sama dengan saling tetap memberi keuntungan layaknya tumpang sari pada tanaman, dan tetap bermanfaat/menjadi pelindung untuk lingkungan kita sendiri, layaknya tanaman kunyit yang melindungi tanaman jahe agar tak terkena jamur. Pada akhirnya, manusia hanya mengkombinasikan semua yang sudah disediakan oleh Tuhan, balik ke manusia itu sendiri, apakah mau berkreasi dan memanfaatkan itu.

Bersama salah satu peserta lain dari Indonesia. Photo credit: Erlin G.

Bersama salah satu peserta lain dari Indonesia.
Photo credit: Erlin G.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hari Kedua: Desain yang “Mencegah Masalah”

Oleh: Robi Navicula

Tumpang sari antara jahe dan kunyit. Tanaman kunyit mengelilingi jahe untuk melindungi akar jahe dari serangan jamur. Photo credit: Hayu Dyah

Tumpang sari antara jahe dan kunyit. Tanaman kunyit mengelilingi jahe untuk melindungi akar jahe dari serangan jamur.
Photo credit: Hayu Dyah

Hari ini kami belajar tentang pentingnya sebuah desain dalam membangun sebuah sistem kebun organik yang utuh. Desain ini ternyata bukan hanya semata bentuk bedeng atau lansekap lahan, tetapi mengandung etika dan prinsip-prinsip yang holistik dan berkelanjutan. Tidak semata hanya menguntungkan petani empunya kebun, tetapi lebih dari itu; Menguntungkan lingkungan/alam sekitar, manusia lainnya, dan masa depan.

Desain yang utuh ini menyangkut segala aspek di tiap-tiap elemen dalam suatu kawasan. Bisa di implementasikan dalam skala mikro, yaitu kebun skala rumah tangga, desain kebun masyarakat, skala desa, propinsi, hingga skala makro alias desain untuk skala negara.

Adapun etika dan prinsip ini bisa cukup terkenal dan bisa di-google dengan kata kunci: “Permaculture Ethics & Principles”.

Karena ternyata, sebagian besar masalah-masalah yang didapat dalam membangun sebuah kebun organik dan ramah lingkungan ini, bisa dihindari dengan pemahaman dan penerapan desain yang tepat. Karena desain ini mengatasi masalah dengan memahami sumber dari masalah itu sendiri, sehingga solusinya bisa lebih jangka panjang dan tidak merusak elemen-elemen lain dalam sebuah ekosistem yang sehat dan tetap mendukung keanekaragaman hayati.

Makanan Masa Depan

Apa yang ada di piring kita 25 tahun lagi? Photo credit: Erlin G.

Apa yang ada di piring kita 25 tahun lagi?
Photo credit: Erlin G.

Selain itu, kami juga terlibat tentang diskusi menarik tentang seperti apa makanan kita 25 tahun ke depan, dan jenis makanan apa yang paling berkelanjutan (sustainable) yang bisa kita kita masukkan dalam diet harian kita.

Makanan tradisional Indonesia yang banyak dilupakan pun ternyata memiliki kriteria tanaman yang ‘berkelanjutan’ disamping memiliki nutrisi yang sanggup memenuhi kebutuhan nutrisi kita. Disamping makanan tersebut mudah didapat, mudah perawatan dan dikembangkan. Indonesia ini kaya, tapi seringkali melupakan kekayaan ini. Menyia-nyiakan kekayaan ini sama saja dengan berjalan ke arah kemiskinan, karena banyak dari orang miskin adalah orang yang tidak menyadari potensi dan kekayaannya.

Menarik saat melihat statistik bahwa rata-rata orang di Indonesia menghabiskan 32% dari pendapatannya untuk makanan. Ini baru rata-rata. Saya yakin apabila seseorang semakin sadar akan makanan yang sehat, mungkin akan ada lebih banyak pengeluaran demi memenuhi standar makanan berkualitas yang dibutuhkannya.

Teringat kembali perbicangan-perbincangan dalam keluarga di meja makan tentang arti dari kemakmuran, bahwa itu tidak semata-mata didapat dengan meningkatkan penghasilan, tetapi bisa juga didapat dengan menghemat pengeluaran. Dengan memiliki sumber pangan yang sehat dan berkelanjutan, saya yakin akan banyak sekali penghematan yang dilakukan oleh sebuah keluarga, karena bukankah “hemat pangkal kaya?”

Salah satu menu makan siang di Bija Vidyapeeth. Photo credit; Erlin G.

Salah satu menu makan siang di Bija Vidyapeeth, semua bahan didapatkan dari petani lokal dan semuanya organik.
Photo credit; Erlin G.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hari Pertama: New Delhi – Dehradun

oleh Hayu Dyah Patria

Satu sudut kota New Delhi

Satu sudut kota New Delhi

India dengan segala ketidakteraturannya selalu membuat saya merindukannya dan ingin kembali. Setelah beberapa tahun, akhirnya saya bisa kembali lagi ke India, kali ini untuk mengikuti kursus agroekologi di sekolah yang didirikan Dr. Vandana Shiva bersama keluarganya, Bija Vidyapeeth. Bija berarti benih, vidyapeeth berarti sekolah.

Ada sebelas orang dari Indonesia yang tahun ini berkesempatan untuk mengikuti kursus ini. Bertemu di Kuala Lumpur, masing-masing dari kami memiliki harapan-harapan tersendiri saat datang ke India. Bagi saya, ini adalah kesempatan pertama saya untuk memimpin perjalanan sebuah kelompok yang cukup besar, sehingga pengalaman ini cukup membuat saya merasa sedikit gugup.

Kami mendarat di New Delhi larut malam dan langsung merasakan terpaan rasa panas, India cukup panas kali ini, suhu di malam hari bahkan mencapai 33 Celsius. Sudah ada tiga mobil yang menjemput kami dan mengantar kami ke hotel Ajanta, hotel bersejarah yang dulunya adalah haveli, sebutan di India untuk rumah yang ditempati oleh keluarga besar. Setiap kamar didesain dengan unik dan tak ada satu pun kamar yang memiliki desain yang sama. Cukup sulit mendapatkan hotel yang bersih di India, dan kami beruntung mendapatkan hotel yang tak hanya bersejarah namun juga bersih disertai sarapan yang sangat enak, dan memberikan potongan harga setiap kami memintanya.

Setelah puas beristirahat kami memutuskan untuk berjalan-jalan melihat-lihat kota Delhi dengan lebih dekat. Sementara Erlin memutuskan untuk mengikuti tur jalan kaki, ke-10 peserta yang lain lebih memilih untuk melakukan tur dengan menggunakan mobil. Cuaca di siang hari sangat panas, namun tak membuat kami kehilangan semangat untuk berfoto setiap saat.

Kereta api sleeper class

Kereta api sleeper class

Menjelang tengah malam kami berangkat ke Dehradun dengan menggunakan kereta api. Kami mendapatkan sleeper class, yang berarti setiap orang mendapatkan sebuah dipan sehingga bisa merebahkan diri. Di Indonesia kami tidak memiliki kereta dengan model dipan-dipan seperti ini sehingga semua begitu bersemangat ingin mencoba tidur di dipan sepanjang perjalanan ke Dehradun. New Delhi – Dehradun ditempuh dalam waktu 6 jam. Suhu dalam kereta api sangat dingin karena AC yang disetel cukup tinggi, untungnya mereka memberikan kami selimut, membuat kami semua segera terlelap di bawah selimut, terlena dalam goncangan lembut kereta api yang bergerak perlahan.

Semua begitu pulas tidur hingga kami tak sadar kami sudah sampai di tujuan terakhir, Dehradun. Dengan terkaget-kaget semua bangun dan segera mengatur strategi untuk mengeluarkan semua barang bawaan kami yang bertumpuk dengan cepat dan efisien. Dalam waktu singkat semua tas, koper, gitar beserta pemiliknya berhasil keluar kereta api. Kami mengelilingi barang bawaan kami dengan muka tertekuk, mata setengah terbuka, semua berdiri diam sambil memandang satu sama lain seakan tak percaya bahwa kami tidak lagi berada di bawah selimut di dalam kereta api. Tiba-tiba sesosok yang tak asing datang kepada kami dengan penuh senyum dan kehangatan, Vandana Shiva menjemput kami dan ia sedikit khawatir karena tak juga melihat rombongan dari Indonesia sehingga ia harus mencari di setiap gerbong, ia sudah mengira kami tertidur. Dengan menggunakan mini bus kami menuju Bija Vidyapeeth, yang kira-kira ditempuh dalam waktu setengah jam dari stasiun Dehradoon yang menurut Vandana dibangun pada awal 1900-an.

Dehradun berada di kaki gunung Himalaya dan berada di antara sungai Gangga dan Yamuna. Dehradun berasal dari dua kata, yaitu “dehra” yang berasal dari kata ‘dera’, yang berarti rumah; dan “doon” adalah istilah yang diberikan untuk lembah yang terletak diantara Himalaya dan “shivaliks”. Drona, guru Kurawa dan Pandawa, disebutkan dilahirkan dan tinggal di Dehradun. Bukti-bukti yang mendukung berupa candi, reruntuhan dan relik kuno berusia sekitar 2000 tahun ditemukan di sekitar Dehradun.

Wajah-wajah setengah bangun menunggu mobil penjemputan. Photo credit: Erlin G.

Wajah-wajah setengah bangun menunggu mobil penjemputan.
Photo credit: Erlin G.

Hari pertama dilewati tanpa melakukan banyak kegiatan untuk memberi kesempatan bagi peserta yang baru datang untuk beristirahat. Lidah kami mulai melaksanakan kewajibannya untuk beradaptasi dengan masakan-masakan India. Sore hari acara pembukaan dimulai dengan Vandana Shiva menceritakan bagaimana Bija Vidyapeeth dulu adalah lahan yang sudah sangat rusak namun kini menjadi pusat keragaman hayati. Ia juga menyoroti tentang sistem ekonomi yang saat ini berkembang di dunia, yaitu economy of extraction (ekonomi ekstraksi) dan ecological economy (ekonomi ekologis). Keduanya menghasilkan limbah, namun ekonomi ekstraksi menghasilkan limbah yang sulit/tidak bisa didaur ulang, seperti limbah pertambangan dan industri; sementara ekonomi ekologis menghasilkan limbah yang menghasilkan kehidupan baru, seperti misalnya jerami yang dihasilkan dari lahan pertanian digunakan untuk berbagai kebutuhan baik di lahan pertanian maupun di rumah.

Kursus ini juga akan mengeksplorasi empat prinsip Gandhi yang dipegang oleh Navdanya, yaitu swaraj, yaitu kemampuan untuk mengorganisir diri sendiri. Dimana manusia dan alam mampu mengorganisir dirinya sendiri mengikuti Hukum yang Tinggi, hukum yang tidak dibuat oleh manusia untuk melindungi sekelompok manusia lain, namun hukum yang berdasarkan dharma; yang kedua adalah swadeshi, yaitu kemampuan untuk memproduksi barang-barang secara lokal, dan ini termasuk makanan, baju, benih dan lain-lain. Karena perekonomian yang berdasarkan pada kelokalan akan memperkuat masyarakat lokal; yang ketiga adalah sarvodaya, yaitu kesejahteraan semua makhluk, mulai mikroorganisme, pohon, binatang, manusia dan lain-lain; dan yang terakhir adalah satyagraha, yaitu pembangkangan sipil secara damai berdasarkan pada kekuatan kebenaran.

Kami, dengan ke 46 peserta lain dari berbagai negara, akan belajar lebih banyak hal lagi selama sebulan mendatang. Tak hanya belajar ilmu praktis, namun kami juga akan belajar mengenai sistem pangan secara menyeluruh dan berbagi serta mendapatkan informasi dari peserta-peserta lain.

Dehra Dehra Dun

Many roads can take you there, many different ways

One direction takes you years, another takes you days

Dehra Dehra Dun

Many people on the roads looking at the sights

Many others with their troubles looking for their rights

-The Beatles-

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment