Hari Kesembilan:

Oleh: Dayu

Ini sudah hari ke-9. Terhitung sudah 9 hari lamanya aku berada di Bija Vidyapeeth (Earth University), Dehradun, India milik Navdanya. Organisasi Navdanya diprakarsai oleh seorang petani sekaligus aktivis wanita, Dr. Vandana Shiva, yang tak gentar dalam menyuarakan pertanian berbasis agroekologi yang mempertahankan keanekaragaman hayati dan kesinambungan alam. Berbekal kemauan untuk belajar dari awal hingga akhir mengenai agroekologi dan pertanian organik membuatku mensyukuri kesempatan yang kumiliki dan berusaha untuk memahaminya dengan baik. Walaupun aku berkuliah di jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, namun kami sama sekali tidak mempelajari mengenai budidaya pertanian, pembibitan, tanah, kompos maupun pestisida. Sehingga ini adalah sesuatu tantangan untukku.

Seperti setiap harinya yang kujalani selama kursus sebulan disini, setelah makan pagi, kami (para peserta kursus) menuju aula dan membuat lingkaran. Kegiatan ini disebut dengan shramdan (acara kumpul-kumpul) yang bertujuan untuk mengakrabkan diri dengan peserta-peserta lainnya dari mancan negara dan untuk lebih menguatkan ikatan persahabatan serta persatuan di antara peserta. Acara awal shramdan dimulai dengan meditasi selama 2 menit untuk mengatur pernafasan dan memfokuskan pikiran. Acara selanjutnya adalah pembacaan quote (kutipan) atau kata–kata bijak untuk memberikan semangat kepada para peserta dalam memulai hari ini. Pada hari ini, salah satu peserta dari Indonesia yakni Nissa Wergadipura mengajukan diri untuk membacakan quote yang Ia ambil dari puisinya yang terdapat dalam buku Bhoomi : The Living Soil terbitan Navdanya sendiri. Puisi tersebut bertemakan agroekologi. Adapun isinya adalah sebagai berikut :

Berguru pada alam

Bahan berlimpah tidak boleh disia-siakan

Yang tak berharga menjadi berharga luar biasa

Tak boleh berpangku tangan

Meraciknya sungguh gampang

Zat perangsang Tanaman

Akar, batang, daun, bunga dan buah

Semua ada di kita dan bisa dibuat oleh kita

Dari tak bisa menjadi bisa

Dari tak biasa menjadi biasa

Urailah satu per satu,

Bila akar, buatlah dari akar-akaran,

Bila batang, buatlah dari batang-batangan,

Bila daun, buatlah dari daun-daunan,

Bila bunga, buatlah dari bunga-bungaan

Pilihlah sekehendak hatimu

Karena berbuat sungguhlah hebat.

Ibu dua anak dari garut itu membacakan puisinya dalam Bahasa Inggris dalam pelafalan dan intonasi sangat indah sehingga membuat peserta lainnya terenyak dan terpesona. Sorakan dan tepuk tangan pun membahana ketika Nissa selesai membacakan “Because taking action is indeed a great thing”.

Mencoba meloloskan diri dari tali

Mencoba meloloskan diri dari tali

Setelah pembacaan quote, acara shramdan selanjutnya adalah game. Game kali ini juga diisi oleh peserta asal Indonesia, yakni Joharipin yang lebih akrab disapa Mr. Jo. Sebelum memulai permainan talinya, Mr. Jo terlebih dahulu meminta peserta untuk mengikuti gerakan senamnya yang tidak ‘lazim’. Setiap peserta rasanya menyadari betapa aneh gerakannya. Aku sudah tidak mengikutinya lagi dan malah asyik menyaksikan gerakan lucu Mr. Jo. Mr. Jo adalah orang yang benar-benar lucu dan selalu membawa suasana ceria di perkumpulan orang-orang Indonesia yang haus akan canda dan tawa. Beliau selalu mempunyai joke-joke yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Setelah itu, Mr. Jo meminta 4 peserta yakni 2 peserta wanita dan 2 laki-laki untuk berpartisipasi dalam permainan talinya. 2 peserta perempuan dan laki-laki saling menyilangkan tali yang terhubung dikedua tangan mereka. Tugas mereka adalah memutus persilangan tali tersebut. Ada semacam trik kusus untuk memutus persilangan itu tanpa memindahkan anggota badan manapun. Ini adalah permainan logika, namun peserta-peserta itu seperti tidak melihat trik yang tersimpan dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan silang itu dengan meloncat ke tangan pasangannya atau membalik diri. Semua peserta yang lain tertawa melihat tingkah lucu peserta ini dalam memustuskan tali silang itu. Setelah kedua pasang peserta itu berkata menyerah, barulah Mr. Jo memberi tau trik mudah itu yang membuat semua peserta melongo seperti melihat sebuah Magic. Namun ada semacam moral message yang ingin disampaikan oleh Mr. Jo melalui permainan tali itu yakni mengenai keadaan Petani yang dihimpit oleh pemerintah yang dikontrol oleh perusahaan-perusahaan agroindustri produsen pupuk anorganik dan pestisida. Petani yang berusaha untuk mengaplikasi Pertanian ramah lingkungan justru dipersulit. Namun, hal tersebut tidak harus membuat Petani menjadi frontal dan menjauhi pemerintah. Petani tetap dapat beralih Pertanian organik tanpa harus memperkeruh hubungan dengan pemerintah namun tetap bersama dan menggandeng pemerintah.

Kompos, Teh dan Ektraknya

Sesi 1:

Perkuliahan di Bija Vidyapeeth ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama dimulai pada pukul 11.00 hingga pukul 13.00 yang pada umumnya adalah pemberian teori dan sesi kedua pada pukul 15.00 hingga 17.00 yang pada umumnya adalah praktek di lapangan. Pada sesi pertama hari ini, kami memperoleh materi mengenai kompos, teh dan ekstraknya. Materi ini diberikan oleh pasangan ahli biologi yakni Mr. Chris Kennedy dan Ms. Marylyn McHugh. Chris memulai presentasinya dengan menampilkan dua bagan mengenai populasi fungi dan bakteri yang terdapat dalam tanah dengan tingkat kesuburan minimum, tanah dengan tingkat kesuburan maksimum, dan kompos. Kedua bagan tersebut menunjukkan bahwa jumlah fungi dan bakteri terbanyak terdapat dalam kompos. Hal ini menunjukkan bagaimana kompos dengan kandungan bakteri dan funginya yang kaya dapat menyuplai nutrisi kepada tanaman dan sekaligus menyuburkan tanah. Seperti yang dipelajari pada hari ke-8, bakteri dan fungi mempunyai peranan sebagai berikut:

  1. Dekomposisi, yakni menguraikan bahan – bahan organik seperti tanaman dan binatang yang mati ke dalam bahan – bahan organik yang stabil.

  2. Humifikasi, yakni proses mengonversi bahan organik ke humus.

  3. Imobilisasi, yakni mikrobakteria mengikat nutrisi – nutrisi yang terkandung dalam kompos ke dalam sel mereka.

  4. Mineralisasi, yakni mikrobakteria mengeluarkan nutrisi – nutrisi anorganik seperti Nitrat, Amonium dan Posfat.

Kompos

Kompos adalah suatu tranformasi dari bahan–bahan organik ke bahan-bahan biologis yang stabil, unit humus pada kompos cocok dengan semua tipe tanah dari tanaman yang digunakan. Seperti yang ditunjukkan dalam bagan dan pelajaran hari ke-8 bahwa bakteri dan fungi memiliki peranan penting dalam menyuplai nutrisi seperti nitrogen dan karbon untuk tanaman dan menyuburkan tanah. Maka untuk mengembangbiakkan bakteri dan fungi dalam kompos perlu memerhatikan tipe atau jenis makanan dari bakteri dan fungi. Chris dan Marylyn menyebutkan bahwa makanan untuk bakteri terdapat dalam bahan–bahan seperti tanaman yang masih segar (green), urin, sisa-sisa makanan, sisa–sisa penggilingan kopi. Sedangkan makanan untuk fungi banyak terdapat pada tanaman yang sudah mati (tanaman yang telah mencoklat), serpihan kayu, koran, kartu dll. Dengan demikian, kompos terdiri dari bahan organik hijau yang masih fresh, bahan organik yang sudah mati (brown), air, dan udara.

Perbandingan C:N dalam Tanaman

Pada masa semi tanaman, dimana awal pertumbuhan tanaman membutuhkan nutrisi yang lebih banyak pada bagian akar. Pada fase awal ini tumbuhan membutuhkan C:N yakni 10:1. Pada masa pembungaan membutuhkan ratio C:N pada bunga yaitu 30:1 dan tunas 60:1. Pada masa pembuahan dan diproduksinya biji, Tanaman memasuki masa dorman atau tidur, dan sebisa mungkin mengembalikan semua nutrisi ke akar. Ratio C:N adalah 150:1.

Kelembapan

Sangat penting untuk menjaga kelembapan dari kompos. Hal ini dikarenakan bakteri dan fungi membutuhkan air untuk proses pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Cara mudah menentukan kelembapan yang baik bagi kompos adalah dengan menggenggam beberapa kompos dan kemudian diperas. Apabila dalam pemerasannya banyak mengeluarkan air berarti kompos tersebut terlalu lembab, namun apabila tidak mengeluarkan air itu juga tidak baik karena kondisi kompos yang terlalu kering. Kondisi kompos yang baik adalah setelah diperas mengeluarkan setetes air hal tersebut sudah menunjukkan kompos dalam kelembapan yang baik. Kelembapan 50-60%.

Ukuran

Ukuran sangat penting dalam Pembuatan kompos. Bahan–bahan organik yang digunakan untuk kompos sebelumnya dikecilkan ukurannya, hal ini bertujuan untuk memperluas luas permukaan sehingga memperluas proses penguraian/pekerjaan dari bacteria.

Varietas

Bahan organik yang digunakan untuk kompos sebaiknya berasal dari berbagai macam makanan.

Lokasi

Lokasi dari pembuatan tempat pengkomposan sebaiknya memperhatikan aspek keteduhan, kedekatan dengan tempat air, area/tempat penggunaan kompos, dan kontak langsung dengan tanah.

Kompos Termal

Peningkatan suhu dalam tumpukan termal berasal dari pertumbuhan bakteri dan fungi yang berlangsung cepat yang menguraikan bahan organik dalam tumpukan. Mikroba menggunakan oksigen secara cepat ketika mereka tumbuh secara cepat. Oleh karena itu, tumpukan seharusnya diubah ketika temperaturnya meningkat tinggi dan cepat dan bakteria, fungi, protozoa dan nematoda perlu dicampur secara teratur melalui pile.

Suhu dan Mikroorganisme

Suhu hingga 550C (131 F) selama tiga hari penuh digunakan untuk membunuh benih-benih rumput, patogen dan hama. Patogen manusia tidak bisa bertahan pada temperatur yang tinggi tetapi yang mempunyai manfaat atau yang baik dapat bertahan dalam keadaan demikian. Selama temperatur dibuat tidak terlalu tinggi atau cepat sehingga yang baik akan dapat bertahan.

Temperatur:

550C (131 F) selama tiga hari

650C (150 F) selama dua hari,

740C (165 F) selama 24 jam, tetapi tidak lebih tinggi

Sehingga resep bakteri dalam kompos dapat diperoleh dengan :

25% Hi N – alfafa, kacang-kacangan, kacang polong, rabuk

50% bahan-bahan hijau

25% bahan-bahan coklat

Pembuatan Kompos Cacing

Cacing mengonsumsi bakteri dan fungi. Sehingga pertumbuhan bakteri dan fungi tidak boleh terlalu cepat dikarenakan akan memproduksi suhu yang tinggi dan hal ini akan membunuh cacing.

Pembuatan Kompos Teh

Kompos teh adalah suatu cara untuk memperluas penggunaan kompos ketika volume yang besar tidak ada atau susah untuk diaplikasikan. Sebagai pilihan yang ramah lingkungan untuk mengontrol hama dan penyakit. Salah satu cara yang dapat meningkatkan proses atau membangun kembali kerusakan ekosistem.

Tipe–tipe kompos teh :

  1. Aerasi secara aktif: Tingkat oksigen mencapai 6ppm, prosesnya selama 12-24 jam, memerlukan tambahan makanan

  1. Non-Aerasi: Membutuhkan proses fermentasi, level oksigen rendah kurang dari 5ppm, proses berjalan lebih dari 1 minggu, memerlukan tambahan makanan

  1. Non-Aerasi-Ekstrak Kompos: tidak membutuhkan oksigen, tidak ada penambahan makanan, prosesnya selama 1-4 jam

Resep Pembuatan kompos untuk fungi

5 gallon (20 L) air

0.5 pound (25 kg) kompos

1 sendok makan (15 mL) ikan

1 sendok makan kelp

1 sendok makan humic acid

diaerasi 12-24 jam

Praktek pembuatan garbage enzyme

Praktek pembuatan garbage enzyme

Sesi II :

Garbage Enzyme

Pada sesi kedua ini kelompok Indonesia diajak untuk mempraktekkan pembuatan garbage enzyme dan vermiwash. Garbage enzyme merupakan proses pembuatan bahan enzim untuk tanaman dengan pemanfaatan limbah dapur. Namun limbah yang dipilih dalam pembuatan garbage enzyme adalah limbah sayuran dan buah-buahan. Sangat tidak disarankan untuk menggunakan ubi-ubian dikarenakan kandungan patinya yang akan menghasilkan bau busuk dalam proses fermentasinya. Limbah sayuran dan buah-buahan tersebut sebelumnya dipotong kecil-kecil untuk memperluas penguraian limbah oleh bakteri. Setelah ditimbang sebanyak 3 kg, limbah dimasukkan ke dalam gentong, kemudian, ditambahkan 1 kg gula palem dan 9 liter air. Gentong ditutup rapat dan disimpan selama 3 bulan. Setiap 15 hari sekali, tutup gentong dibuka, garbage enzyme ini memiliki banyak manfaat mulai dari digunakan sebagai pembersih lantai, untuk membersihkan flek-flek hitam pada dinding atau lantai toilet, untuk membersihkan kotoran atau noda hitam pada pakaian, untuk membersihkan kolam renang. Selain itu, garbage enzyme ini dapat dicampurkan dalam air untuk irigasi tanaman dan membuat tanah memiliki tektur yang lembut atau tidak padat. Garbage enzyme juga digunakan untuk pengontrol hama dan penyakit dengan mencampurkannya dan air kemudian disemprotkan ke tanaman.

Vermiwash

Seperti namanya vermiwash memanfaatkan cacing tanah. Cairan yang dihasilkan dari proses penguraian cacing tanah ini dimanfaatkan untuk berbagai hal dari pembersih hingga pengontrol hama dan penyakit. Cara pembuatannya adalah disiapkan gentong yang pada bagian bawahnya terdapat keran. Gentong tersebut dibagi ukurannya menjadi lima bagian, bagian pertama atau lapisan bawah ditumpukan batu-batu yang besar, lapisan bawah kedua ditumpukkan batu-batu berukuran medium, lapisan ketiga terbawah ditumpukkan batu-batu kerikil, lapisan keempat ditumpukkan jenis tanah silk, dan lapisan kelima ditumpukkan kotoran sapi dan cacing tanah. Kotoran sapi disini sebagai media Nutrisi dari perkembangan cacing tanah kemudian ditutup dengan jerami. Setiap harinya gentong vermin wash ini disiramkan air, cairan yang kemudian keluar melalui keran ini dimanfaatkan untuk pembersih atau pencuci dan pengontol hama dan penyakit.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s