Hari Kesepuluh: Tanah dan Kehidupan

Oleh: Erlin Goentoro

Hidup di kota dan terobsesi dengan kebersihan, tanah sering saya sederhanakan sebagai sesuatu yang kotor. Mungkin itu juga sebabnya hidroponik menjadi sesuatu kegiatan menanam yang sedang naik daun akhir-akhir ini di perkotaan. Menanam dengan hidroponik terasa lebih modern, bersih dan menjanjikan hasil tanaman yang bagus penampilannya.

Lalu kenapa kita perlu peduli dengan kondisi tanah? Dan kenapa kita tetap perlu menanam tanaman kita di medium tanah? Selama satu minggu ini, A to Z Agroecology memfokuskan pengajarannya di tanah. Hampir semua peserta kursus merasakan penghargaan dan kekaguman yang baru terhadap tanah. Berikut beberapa hasil rangkuman singkat saya tentang tanah. Semoga bisa membuat teman-teman menjadi lebih menghargai tanah juga yah 🙂

Asal Usul Tanah

Selama berjuta-juta tahun, bumi kita ini tidak memiliki tanah. Bumi hanya terdiri dari udara, air, dan gunung batu. Proses utama pembentukan tanah terjadi melalui gesekan terus menerus air dan gunung batu yang secara perlahan mengikis dan menciptakan partikel-partikel tanah.

Selain itu, berbagai proses alam seperti gempa bumi, perubahan iklim, dan pembentukan es juga turut membantu pembentukan tanah. Rumput laut dan jamur juga berperan dengan mengeluarkan asam kimia yang memudahkan penguraian batu-batuan. Proses alami ini berlangsung sangat lama, sekitar 500-1000 tahun untuk membuat 1 inch (2.54cm) tanah!

Komposisi Tanah

Apa saja isi tanah? Berikut komposisi tanah yang subur:

  1. Mineral (45%)

Tanah terdiri dari berbagai partikel dari gunung batu mulai dari yang besar sampai ke kecil. Komposisi non-organik utama dari tanah terdiri dari pasir (sand), silt, dan tanah liat (clay). Partikel tanah ini memiliki kandungan mineral yang sangat kaya, namun mineral ini tidak bisa diproses langsung oleh tanaman.

  1. Udara (20-30%)
  2. Air (20-30%)
  3. Materi Organik (5%)

Materi organik ini terdiri dari berbagai tanaman dan hewan yang mati dan mengalami proses dekomposisasi secara natural. Pada hutan dan area yang masih belum disentuh oleh peradaban, komposisi materi organik di tanah akan sangat tinggi. Pada tanah yang menggunakan pertanian konvensional berbasis bahan-bahan kimia, materi organik di dalam tanah bisa menyusut hingga 0.5 – 2% saja.

Day 10b

Bagian tanah dengan materi organik yang sangat tinggi ini dinamakan humus. Warnanya coklat tua seperti warna kopi dan memiliki molekul karbon yang memiliki kandungan elektrik. Bagi yang tertarik, teman-teman bisa mencoba membuat lampu bertenaga humus.

Kehidupan dalam Tanah

Day 10cLalu apakah hanya materi diatas saja yang ada di dalam tanah? Ternyata selain materi non senyawa diatas, ada banyak sekali kehidupan di dalam tanah. Berbagai macam mikroba hidup dalam tanah. Beberapa yang mudah diidentifikasi adalah bakteria, jamur, protozoa, nematoda, arthropoda dan teman yang sering kita jumpai, cacing tanah. Mereka hidup dengan satu tujuan, makan! Tanah menyediakan berbagai materi organik yang sangat enak buat makhluk hidup mikroba ini, selain itu, mikroba-mikroba ini juga saling makan satu sama lain.

Sebelum ada yang berteriak dan menjerit jijik, perlu diketahui bahwa di tubuh kita sendiri ada 10 triliun bakteri. Lebih banyak daripada jumlah sel unik tubuh yang hanya berjumlah 1 triliun. Bakteri yang ada di dalam tubuh kita itu ternyata juga bisa ditemukan di dalam tanah.

Tidak seperti di iklan pasta gigi, bakteri itu tidak semuanya buruk. Banyak sekali bakteri-bakteri yang krusial diperlukan oleh tubuh kita agar bisa berfungsi secara normal dan sehat. Bagi yang tertarik, teman-teman bisa menonton video dibawah ini bertajuk ‘Human Microbiome Project’ yang menjelaskan tentang pentingnya mikroba di dalam tubuh melalui animasi yang cantik.

Ini embed videonya: http://www.youtube.com/watch?v=5DTrENdWvvM

Selain itu, riset juga sudah menemukan bahwa bakteri Mycobacterium vaccae yang ditemukan di dalam tanah akan mengaktifkan keluarnya hormon serotonin dari otak kita. Serotonin ini adalah hormon yang berfungsi untuk membuat kita bahagia, anti-depresi yang alami, serta meningkatkan imunitas tubuh. Jadi berkebun bisa membuat kita lebih bahagia.

Nah, sama seperti tubuh yang menjadi suatu ekosistem bagi para bakteri, tanah juga menjadi suatu ekosistem kehidupan bagi para mikroba. Bahkan banyak ilmuwan yang beranggapan bahwa tanah adalah salah satu ekosistem yang paling kompleks dan masih belum begitu dipahami. Riset di bidang biologi tanah sendiri baru mengalami perkembangan di 10-15 tahun yang terakhir. Semakin banyak hal yang baru dan mengagumkan tentang kehidupan di dalam tanah yang ditemukan di satu dekade terakhir.

Mutualisme Tanaman dengan Mikroba

Ketika para penghuni tanah hanya berfokus untuk mengisi perut mereka masing-masing, ada efek samping yang dapat kita nikmati dari aktivitas kehidupan mereka. Tanah menjadi memiliki tekstur yang lebih bagus, memiliki rongga-rongga udara yang penting untuk respirasi dan juga mampu menampung air dengan jumlah yang banyak. Penelitian mengatakan bahwa lapisan humus bisa menampung air setidaknya 40x lipat dari beratnya. Kemampuan menyerap air ini sangat penting agar tanah pertanian tidak membutuhkan air yang banyak untuk irigasi. Selain itu, tanah juga bisa berperan untuk mencegah banjir pada saat hujan lebat!

Para mikroba ini juga mengurai berbagai mineral dan bahan organik kompleks menjadi nutrisi yang siap dikonsumsi oleh tanaman. Minimum ada 21 macam nutrisi (beberapa ilmuwan bahkan menyatakan ada 40-60 macam nutrisi) di dalam tanah yang bisa tersedia tanaman oleh jasa mikroba.

Ada banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dan tidak bisa didapatkan dengan cara lain secara alami kecuali melalui mikroba. Misalnya, Nitrogen. Udara memiliki kandungan Nitrogen sebanyak 70% tetapi tanaman tidak bisa mengambil Nitrogen langsung dari udara. Tanaman hanya bisa bisa menyerap Nitrogen yang dihasilkan oleh mikroba di dalam tanah.

Hubungan simbiosis mikroba dan tanaman ini bisa terlihat jelas bila kita mengamati bagian akar tanaman. Tanaman mengeluarkan bahan kimia di akar untuk menarik kehadiran para mikroba yang baik dan menguntungkan bagi mereka. Anggap saja seperti bunga hendak menarik kehadiran kupu-kupu, atau seorang ibu yang menyajikan kue kesukaan anaknya dengan tujuan untuk menyuruh anaknya menyelesaikan PR. Mikroba yang berguna untuk tanaman ini hadir, mengkonsumsi makanan dari sang tanaman, dan sebagai balas jasa, tanaman memperoleh nutrisi dan perlindungan akar tanaman dari mikroba yang merugikan.

Rhizosphere, area dengan jarak tidak lebih dari 1-2mm dari akar dimana interaksi mikroba dan akar terjadi secara intensif

Rhizosphere, area dengan jarak tidak lebih dari 1-2mm dari akar dimana interaksi mikroba dan akar terjadi secara intensif

Hubungan yang lebih erat bisa juga diamati di endomycorrhizae, jamur (fungi) yang hidup di dalam akar tanaman dan bisa memperpanjang jarak serap nutrisi dan air akar tanaman hingga bermeter-meter. Selain itu, para ilmuwan sendiri baru menemukan bahwa tanaman bisa berkomunikasi dengan tanaman lain melalui endomycorrhizae ini!

Fungi yang berada di dalam akar tanaman (endomycorrhizae)

Fungi yang berada di dalam akar tanaman (endomycorrhizae)

Nah, mungkin sekarang bisa menjawab pertanyaan mengapa kita tetap sebaiknya menanam dengan menggunakan medium tanam tanah ya? Alam sudah menyediakan tanah dan ekosistem yang begitu kompleks untuk menyediakan beragam nutrisi alami. Meski hidroponik dan aquaponik terkesan mengasyikkan, namun sepertinya medium tanah dan sistem pertanian ekologis tetap akan menghasilkan pangan yang lebih beragam dan alami nutrisinya.

Kondisi Tanah Sekarang

Mayoritas sistem pertanian kita sekarang adalah pertanian konvensional yang sangat mengandalkan berbagai bahan kimia untuk pupuk dan pestisida. Bahan-bahan kimia ini berdampak terhadap menurunnya bahan organik dan mikroba di dalam tanah. Tanah kita tidak dapat lagi memberikan nutrisi alami ke tanaman. Akhirnya para petani harus meningkatkan penggunaan pupuk kimia untuk mempertahankan hasil panen. Siklus ini berlanjut terus hingga tanah menjadi rusak.

Menghilangnya mikroba di dalam tanah juga membuat tekstur tanah tidak baik. Tanah menjadi padat dan tidak mampu lagi menampung air. Akibatnya penggunaan air di pertanian konvensional menjadi jauh lebih banyak. Saat ini, 70% penggunaan air adalah dari sektor pertanian. Kondisi tanah semacam ini juga memberikan ancaman banjir dan erosi tanah bila hujan lebat terjadi.

Tanah dan Sistem Pertanian Ekologis

Christopher dan Marylin dari Hummingbird Project adalah narasumber kami minggu ini. Mereka adalah pasangan suami istri ahli tanah yang bekerja di daerah-daerah dengan kondisi tanah yang rusak. Mereka pergi ke Afrika dan daerah-daerah suicide belt di India untuk mengajak para petani mengembalikan kesuburan dan kehidupan di tanah melalui pemberian pupuk-pupuk alami. Pengembalian materi organik dan mikroba kedalam tanah adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kehidupan dan ekosistem tanah ke kondisi alaminya.

Sistem pertanian ekologis adalah sistem yang menghargai alam dan proses alaminya. Pertanian ekologis tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai stimulan pertumbuhan dan menghargai tanah sebagai suatu ekosistem yang hidup.

Pertanian ekologis memberikan solusi untuk penghematan air, peningkatan kualitas pangan dan lingkungan. Di “Agriculture at a Crossroads”, hasil kolaborasi 3 tahun yang melibatkan 900 partisipan dan 110 negara, disimpulkan bahwa cara pertanian yang bisa berkelanjutan untuk masa depan adalah pertanian ekologis.

Penutup

Tanah tidak hanya sekedar sebuah kotak hitam medium tanaman. Tanah adalah sesuatu yang hidup, sebuah ekosistem kompleks yang disediakan alam untuk memberikan nutrisi yang cukup untuk semua makhluk hidup.

Maka, marilah kita mulai lebih menghargai dan menjaga kesehatan tanah! Apabila teman-teman ingin belajar lebih mengenai tanah, dibawah ini kami sertakan referensi mengenai tanah yang menarik. Teman-teman juga bisa bertanya ke Mantasa langsung, kami akan berusaha menjawab sebisanya. Terimakasih untuk waktunya!

Referensi:

Symphony of the Soil: film dokumentari tentang tanah

Theory of Microbes oleh Jeff Lowenfels: buku yang menjelaskan lebih jauh tentang memaksimalkan fungsi mikroba untuk kesuburan tanah

The Soil Will Save Us oleh Kristin Ohlson: buku yang menjelaskan bagaimana mengembalikan tanah ke ekosistem alami akan membantu memperbaiki kondisi lingkungan

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Hari Kesembilan:

Oleh: Dayu

Ini sudah hari ke-9. Terhitung sudah 9 hari lamanya aku berada di Bija Vidyapeeth (Earth University), Dehradun, India milik Navdanya. Organisasi Navdanya diprakarsai oleh seorang petani sekaligus aktivis wanita, Dr. Vandana Shiva, yang tak gentar dalam menyuarakan pertanian berbasis agroekologi yang mempertahankan keanekaragaman hayati dan kesinambungan alam. Berbekal kemauan untuk belajar dari awal hingga akhir mengenai agroekologi dan pertanian organik membuatku mensyukuri kesempatan yang kumiliki dan berusaha untuk memahaminya dengan baik. Walaupun aku berkuliah di jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, namun kami sama sekali tidak mempelajari mengenai budidaya pertanian, pembibitan, tanah, kompos maupun pestisida. Sehingga ini adalah sesuatu tantangan untukku.

Seperti setiap harinya yang kujalani selama kursus sebulan disini, setelah makan pagi, kami (para peserta kursus) menuju aula dan membuat lingkaran. Kegiatan ini disebut dengan shramdan (acara kumpul-kumpul) yang bertujuan untuk mengakrabkan diri dengan peserta-peserta lainnya dari mancan negara dan untuk lebih menguatkan ikatan persahabatan serta persatuan di antara peserta. Acara awal shramdan dimulai dengan meditasi selama 2 menit untuk mengatur pernafasan dan memfokuskan pikiran. Acara selanjutnya adalah pembacaan quote (kutipan) atau kata–kata bijak untuk memberikan semangat kepada para peserta dalam memulai hari ini. Pada hari ini, salah satu peserta dari Indonesia yakni Nissa Wergadipura mengajukan diri untuk membacakan quote yang Ia ambil dari puisinya yang terdapat dalam buku Bhoomi : The Living Soil terbitan Navdanya sendiri. Puisi tersebut bertemakan agroekologi. Adapun isinya adalah sebagai berikut :

Berguru pada alam

Bahan berlimpah tidak boleh disia-siakan

Yang tak berharga menjadi berharga luar biasa

Tak boleh berpangku tangan

Meraciknya sungguh gampang

Zat perangsang Tanaman

Akar, batang, daun, bunga dan buah

Semua ada di kita dan bisa dibuat oleh kita

Dari tak bisa menjadi bisa

Dari tak biasa menjadi biasa

Urailah satu per satu,

Bila akar, buatlah dari akar-akaran,

Bila batang, buatlah dari batang-batangan,

Bila daun, buatlah dari daun-daunan,

Bila bunga, buatlah dari bunga-bungaan

Pilihlah sekehendak hatimu

Karena berbuat sungguhlah hebat.

Ibu dua anak dari garut itu membacakan puisinya dalam Bahasa Inggris dalam pelafalan dan intonasi sangat indah sehingga membuat peserta lainnya terenyak dan terpesona. Sorakan dan tepuk tangan pun membahana ketika Nissa selesai membacakan “Because taking action is indeed a great thing”.

Mencoba meloloskan diri dari tali

Mencoba meloloskan diri dari tali

Setelah pembacaan quote, acara shramdan selanjutnya adalah game. Game kali ini juga diisi oleh peserta asal Indonesia, yakni Joharipin yang lebih akrab disapa Mr. Jo. Sebelum memulai permainan talinya, Mr. Jo terlebih dahulu meminta peserta untuk mengikuti gerakan senamnya yang tidak ‘lazim’. Setiap peserta rasanya menyadari betapa aneh gerakannya. Aku sudah tidak mengikutinya lagi dan malah asyik menyaksikan gerakan lucu Mr. Jo. Mr. Jo adalah orang yang benar-benar lucu dan selalu membawa suasana ceria di perkumpulan orang-orang Indonesia yang haus akan canda dan tawa. Beliau selalu mempunyai joke-joke yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Setelah itu, Mr. Jo meminta 4 peserta yakni 2 peserta wanita dan 2 laki-laki untuk berpartisipasi dalam permainan talinya. 2 peserta perempuan dan laki-laki saling menyilangkan tali yang terhubung dikedua tangan mereka. Tugas mereka adalah memutus persilangan tali tersebut. Ada semacam trik kusus untuk memutus persilangan itu tanpa memindahkan anggota badan manapun. Ini adalah permainan logika, namun peserta-peserta itu seperti tidak melihat trik yang tersimpan dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan silang itu dengan meloncat ke tangan pasangannya atau membalik diri. Semua peserta yang lain tertawa melihat tingkah lucu peserta ini dalam memustuskan tali silang itu. Setelah kedua pasang peserta itu berkata menyerah, barulah Mr. Jo memberi tau trik mudah itu yang membuat semua peserta melongo seperti melihat sebuah Magic. Namun ada semacam moral message yang ingin disampaikan oleh Mr. Jo melalui permainan tali itu yakni mengenai keadaan Petani yang dihimpit oleh pemerintah yang dikontrol oleh perusahaan-perusahaan agroindustri produsen pupuk anorganik dan pestisida. Petani yang berusaha untuk mengaplikasi Pertanian ramah lingkungan justru dipersulit. Namun, hal tersebut tidak harus membuat Petani menjadi frontal dan menjauhi pemerintah. Petani tetap dapat beralih Pertanian organik tanpa harus memperkeruh hubungan dengan pemerintah namun tetap bersama dan menggandeng pemerintah.

Kompos, Teh dan Ektraknya

Sesi 1:

Perkuliahan di Bija Vidyapeeth ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama dimulai pada pukul 11.00 hingga pukul 13.00 yang pada umumnya adalah pemberian teori dan sesi kedua pada pukul 15.00 hingga 17.00 yang pada umumnya adalah praktek di lapangan. Pada sesi pertama hari ini, kami memperoleh materi mengenai kompos, teh dan ekstraknya. Materi ini diberikan oleh pasangan ahli biologi yakni Mr. Chris Kennedy dan Ms. Marylyn McHugh. Chris memulai presentasinya dengan menampilkan dua bagan mengenai populasi fungi dan bakteri yang terdapat dalam tanah dengan tingkat kesuburan minimum, tanah dengan tingkat kesuburan maksimum, dan kompos. Kedua bagan tersebut menunjukkan bahwa jumlah fungi dan bakteri terbanyak terdapat dalam kompos. Hal ini menunjukkan bagaimana kompos dengan kandungan bakteri dan funginya yang kaya dapat menyuplai nutrisi kepada tanaman dan sekaligus menyuburkan tanah. Seperti yang dipelajari pada hari ke-8, bakteri dan fungi mempunyai peranan sebagai berikut:

  1. Dekomposisi, yakni menguraikan bahan – bahan organik seperti tanaman dan binatang yang mati ke dalam bahan – bahan organik yang stabil.

  2. Humifikasi, yakni proses mengonversi bahan organik ke humus.

  3. Imobilisasi, yakni mikrobakteria mengikat nutrisi – nutrisi yang terkandung dalam kompos ke dalam sel mereka.

  4. Mineralisasi, yakni mikrobakteria mengeluarkan nutrisi – nutrisi anorganik seperti Nitrat, Amonium dan Posfat.

Kompos

Kompos adalah suatu tranformasi dari bahan–bahan organik ke bahan-bahan biologis yang stabil, unit humus pada kompos cocok dengan semua tipe tanah dari tanaman yang digunakan. Seperti yang ditunjukkan dalam bagan dan pelajaran hari ke-8 bahwa bakteri dan fungi memiliki peranan penting dalam menyuplai nutrisi seperti nitrogen dan karbon untuk tanaman dan menyuburkan tanah. Maka untuk mengembangbiakkan bakteri dan fungi dalam kompos perlu memerhatikan tipe atau jenis makanan dari bakteri dan fungi. Chris dan Marylyn menyebutkan bahwa makanan untuk bakteri terdapat dalam bahan–bahan seperti tanaman yang masih segar (green), urin, sisa-sisa makanan, sisa–sisa penggilingan kopi. Sedangkan makanan untuk fungi banyak terdapat pada tanaman yang sudah mati (tanaman yang telah mencoklat), serpihan kayu, koran, kartu dll. Dengan demikian, kompos terdiri dari bahan organik hijau yang masih fresh, bahan organik yang sudah mati (brown), air, dan udara.

Perbandingan C:N dalam Tanaman

Pada masa semi tanaman, dimana awal pertumbuhan tanaman membutuhkan nutrisi yang lebih banyak pada bagian akar. Pada fase awal ini tumbuhan membutuhkan C:N yakni 10:1. Pada masa pembungaan membutuhkan ratio C:N pada bunga yaitu 30:1 dan tunas 60:1. Pada masa pembuahan dan diproduksinya biji, Tanaman memasuki masa dorman atau tidur, dan sebisa mungkin mengembalikan semua nutrisi ke akar. Ratio C:N adalah 150:1.

Kelembapan

Sangat penting untuk menjaga kelembapan dari kompos. Hal ini dikarenakan bakteri dan fungi membutuhkan air untuk proses pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Cara mudah menentukan kelembapan yang baik bagi kompos adalah dengan menggenggam beberapa kompos dan kemudian diperas. Apabila dalam pemerasannya banyak mengeluarkan air berarti kompos tersebut terlalu lembab, namun apabila tidak mengeluarkan air itu juga tidak baik karena kondisi kompos yang terlalu kering. Kondisi kompos yang baik adalah setelah diperas mengeluarkan setetes air hal tersebut sudah menunjukkan kompos dalam kelembapan yang baik. Kelembapan 50-60%.

Ukuran

Ukuran sangat penting dalam Pembuatan kompos. Bahan–bahan organik yang digunakan untuk kompos sebelumnya dikecilkan ukurannya, hal ini bertujuan untuk memperluas luas permukaan sehingga memperluas proses penguraian/pekerjaan dari bacteria.

Varietas

Bahan organik yang digunakan untuk kompos sebaiknya berasal dari berbagai macam makanan.

Lokasi

Lokasi dari pembuatan tempat pengkomposan sebaiknya memperhatikan aspek keteduhan, kedekatan dengan tempat air, area/tempat penggunaan kompos, dan kontak langsung dengan tanah.

Kompos Termal

Peningkatan suhu dalam tumpukan termal berasal dari pertumbuhan bakteri dan fungi yang berlangsung cepat yang menguraikan bahan organik dalam tumpukan. Mikroba menggunakan oksigen secara cepat ketika mereka tumbuh secara cepat. Oleh karena itu, tumpukan seharusnya diubah ketika temperaturnya meningkat tinggi dan cepat dan bakteria, fungi, protozoa dan nematoda perlu dicampur secara teratur melalui pile.

Suhu dan Mikroorganisme

Suhu hingga 550C (131 F) selama tiga hari penuh digunakan untuk membunuh benih-benih rumput, patogen dan hama. Patogen manusia tidak bisa bertahan pada temperatur yang tinggi tetapi yang mempunyai manfaat atau yang baik dapat bertahan dalam keadaan demikian. Selama temperatur dibuat tidak terlalu tinggi atau cepat sehingga yang baik akan dapat bertahan.

Temperatur:

550C (131 F) selama tiga hari

650C (150 F) selama dua hari,

740C (165 F) selama 24 jam, tetapi tidak lebih tinggi

Sehingga resep bakteri dalam kompos dapat diperoleh dengan :

25% Hi N – alfafa, kacang-kacangan, kacang polong, rabuk

50% bahan-bahan hijau

25% bahan-bahan coklat

Pembuatan Kompos Cacing

Cacing mengonsumsi bakteri dan fungi. Sehingga pertumbuhan bakteri dan fungi tidak boleh terlalu cepat dikarenakan akan memproduksi suhu yang tinggi dan hal ini akan membunuh cacing.

Pembuatan Kompos Teh

Kompos teh adalah suatu cara untuk memperluas penggunaan kompos ketika volume yang besar tidak ada atau susah untuk diaplikasikan. Sebagai pilihan yang ramah lingkungan untuk mengontrol hama dan penyakit. Salah satu cara yang dapat meningkatkan proses atau membangun kembali kerusakan ekosistem.

Tipe–tipe kompos teh :

  1. Aerasi secara aktif: Tingkat oksigen mencapai 6ppm, prosesnya selama 12-24 jam, memerlukan tambahan makanan

  1. Non-Aerasi: Membutuhkan proses fermentasi, level oksigen rendah kurang dari 5ppm, proses berjalan lebih dari 1 minggu, memerlukan tambahan makanan

  1. Non-Aerasi-Ekstrak Kompos: tidak membutuhkan oksigen, tidak ada penambahan makanan, prosesnya selama 1-4 jam

Resep Pembuatan kompos untuk fungi

5 gallon (20 L) air

0.5 pound (25 kg) kompos

1 sendok makan (15 mL) ikan

1 sendok makan kelp

1 sendok makan humic acid

diaerasi 12-24 jam

Praktek pembuatan garbage enzyme

Praktek pembuatan garbage enzyme

Sesi II :

Garbage Enzyme

Pada sesi kedua ini kelompok Indonesia diajak untuk mempraktekkan pembuatan garbage enzyme dan vermiwash. Garbage enzyme merupakan proses pembuatan bahan enzim untuk tanaman dengan pemanfaatan limbah dapur. Namun limbah yang dipilih dalam pembuatan garbage enzyme adalah limbah sayuran dan buah-buahan. Sangat tidak disarankan untuk menggunakan ubi-ubian dikarenakan kandungan patinya yang akan menghasilkan bau busuk dalam proses fermentasinya. Limbah sayuran dan buah-buahan tersebut sebelumnya dipotong kecil-kecil untuk memperluas penguraian limbah oleh bakteri. Setelah ditimbang sebanyak 3 kg, limbah dimasukkan ke dalam gentong, kemudian, ditambahkan 1 kg gula palem dan 9 liter air. Gentong ditutup rapat dan disimpan selama 3 bulan. Setiap 15 hari sekali, tutup gentong dibuka, garbage enzyme ini memiliki banyak manfaat mulai dari digunakan sebagai pembersih lantai, untuk membersihkan flek-flek hitam pada dinding atau lantai toilet, untuk membersihkan kotoran atau noda hitam pada pakaian, untuk membersihkan kolam renang. Selain itu, garbage enzyme ini dapat dicampurkan dalam air untuk irigasi tanaman dan membuat tanah memiliki tektur yang lembut atau tidak padat. Garbage enzyme juga digunakan untuk pengontrol hama dan penyakit dengan mencampurkannya dan air kemudian disemprotkan ke tanaman.

Vermiwash

Seperti namanya vermiwash memanfaatkan cacing tanah. Cairan yang dihasilkan dari proses penguraian cacing tanah ini dimanfaatkan untuk berbagai hal dari pembersih hingga pengontrol hama dan penyakit. Cara pembuatannya adalah disiapkan gentong yang pada bagian bawahnya terdapat keran. Gentong tersebut dibagi ukurannya menjadi lima bagian, bagian pertama atau lapisan bawah ditumpukan batu-batu yang besar, lapisan bawah kedua ditumpukkan batu-batu berukuran medium, lapisan ketiga terbawah ditumpukkan batu-batu kerikil, lapisan keempat ditumpukkan jenis tanah silk, dan lapisan kelima ditumpukkan kotoran sapi dan cacing tanah. Kotoran sapi disini sebagai media Nutrisi dari perkembangan cacing tanah kemudian ditutup dengan jerami. Setiap harinya gentong vermin wash ini disiramkan air, cairan yang kemudian keluar melalui keran ini dimanfaatkan untuk pembersih atau pencuci dan pengontol hama dan penyakit.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Hari Kedelapan: Perlunya Bank Benih

Oleh: Markus Hardo Iswanto

Koleksi benih di Bank Benih Navdanya

Koleksi benih di Bank Benih Navdanya

Banyak hal yang menarik selama seminggu mengikuti kursus di Navdanya, India, salah satunya adalah tentang Bank Benih.

Apakah bank benih? Bank Benih merupakan tempat untuk menyimpan dan melestarikan benih-benih lokal yang didapatkan dari para petani dari berbagai daerah. Benih yang disimpan adalah aneka benih tanaman pangan, antara lain: padi, jagung, gandum, kacang-kacangan dan seterusnya. Dengan adanya Bank Benih, memudahkan para petani tetap mempunyai benih  yang mereka inginkan.

Mengapa ada Bank Benih? Navdanya menyadari bahwa dengan adanya program Revolusi

Koleksi padi Navdanya

Koleksi padi Navdanya

Hijau tahun 1970-an bahwa muncul penyeragaman benih (monokultur), berakibat pada punahnya benih-benih lokal di lingkungan pertanian. Sehingga petani tidak mempunyai benih sendiri lagi, dan pada akhirnya benih lokal hilang atau punah. Belum lagi akibat benih unggul monokultur yang tidak bisa ditanam ulang dan harganya pun mahal. Inilah yang membuat Navdanya mulai mencari benih-benih lokal yang tujuannya untuk menyelamatkan kekayaan tanaman pangan. Dengan tujuan untuk membantu petani untuk mendapatkan benih lokal yang baik dengan gratis. Benih-benih lokal inilah yang sekarang ada di Bank Benih Navdanya, yang jumlahnya ribuan benih, bahkan benih padi yang dilestarikan oleh Navanya lebih dari 700 jenis padi.

Tempat penyimpanan benih tradisional, bisa menyimpan benih lebih dari 20 tahun. Keranjang bambu dilapisi dengan tanah liat.

Tempat penyimpanan benih tradisional, bisa menyimpan benih lebih dari 20 tahun. Keranjang bambu dilapisi dengan tanah liat.

Bagaimana Bank Benih membantu para petani? Dengan adanya Bank Benih, Navdanya berusaha membagikan kepada para petani. Negara India terdiri dari banyak negara bagian (=propinsi), lalu Navdanya membuat Bank Benih di setiap negara bagian (seperti KUD). Dari setiap unit Bank Benih inilah benih-benih tanaman pangan dibagikan kepada petani secara gratis. Sehingga para petani kembali memiliki benih-benih lokal yang multikultur, sehat dan ramah lingkungan. Selain membantu para petani dengan berbagai benih, Navdanya juga mendampingi para petani supaya ikut menjaga kelestarian benih lokal dan saling membantu antara sesama petani.

Peserta mendengarkan seksama penjelasan mengenai Bank Benih

Apa makna untuk petani di Indonesia? Sebenarnya budaya gotong-royong saling membantu tanpa dinilai dengan uang adalah budaya kita. Terutama untuk mereka yang menderita, seperti petani saat ini. Belajar dari Navdanya, bahwa mereka bukan lembaga pemerintah, tapi lembaga non-pemerintah yang peduli terhadap penderitaan petani. Lalu mereka terpanggil untuk berbuat secara nyata. Maka muncullah Bank Benih. Semoga di Indonesia muncul pribadi-pribadi yang mau diajak untuk mendirikan Bank Benih. Karena hal ini selaras dengan budaya luhur Indonesia.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Hari Ketujuh: SEETIBYA

Oleh: I Made Suardika

Tanaman seetibya atau stevia.

Tanaman seetibya atau stevia.

Hari ini pelajaran tentang struktur tanah yang sangat bagus untuk menambah ilmu tapi aku kurang mengerti dengan bahasa seorang propesor. Tapi hanya paham sedikit saja.

Struktur tanah yg sehat adalah tanah yang penuh dgn unsur hara yang mana sangat dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan untuk bisa tumbuh dengan baik.

Kata pak profesor kita hrs merawat tanah seperti kita merawat diri sendiri karena apa yang ada di tanah juga ada di dalam tubuh manusia. Seperti kita menggunakan pupuk kimia kedalam tanah maka mikro organisme yang ada di dalam tanah itu akan mati dan tidak ada yang mengurai unsur hara yang ada di dalam tanah tanaman hanya bisa mengambil nutrisi hanya dari pupuk kimia tadi. Karena matinya mikroorganisme dalam tanah maka unsur haranya juga akan hilang dan tanah akan mati dan tidak ada tumbuhan yang bisa hidup sehat.

Di dalam tubuh manusia itu juga demikian, kalo kita kurang fit kita pasti mengonsumsi suplemen penambah tenaga dari luar dan jika kita sakit juga mengkomsumsi obat anti biotik yg mana obat ini menurunkan kekebalan tubuh manusia dan juga membunuh semua bakteri yg ada di dalam tubuh yang mana bakteri itu sebagai pengurai makanan dan juga ada sebagai sistem imun/ kekebalan tubuh sehingga tubuh kita tidak kuat jika ada serangan penyakit dari luar ataupun dari dalam.

Hanya itu yg bisa saya tangkap dari penjelasan tadi.

Dalam kehidupan sehari hari kita sering mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dan menyebabkan timbulnya banyak penyakit seperti contohnya ; GULA pasir. Ternyata saya dapat pengetahuan bahwa ada sebuah tanaman yang bisa dipakai sebagai pemanis pengganti gula yang kalau bahasa Indianya namanya adalah “SEETIBYA”. Saya tidak percaya akan adanya tanaman pengganti gula. Ternyata Navdanya mempunyai kebun herbal yang ada di belakang kelas tempat kita belajar dan memang benar saya mencoba mencicipi daun tanaman seetibya rasanya manis seperti gula pasir. Saya akan mempelajari apakah tanaman itu bisa di tanam di indonesia dan bagaimana cara penanamannya.

Demikianlah yang dapat saya bagikan kepada teman teman semoga bermanfaat. Terima kasih

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Hari Keenam: Bunga Labu Merah

Oleh: Joharipin

Bunga labu

Bunga labu

Saat ku terbangun dari tidurku, saat itu pula kuberanjak dibelakang mes yang kutempati, tiba-tiba ku tercengang melihat serangga menghinggapi bunga yang mekar, perlahan- lahan kudekati dan ku cermati prilaku serangga itu, ternyata si entong lebah menari–nari di atas bunga kupikir dia akan memakannya eh……. ternyata tidak……. tidak…… tidak………. mereka sungguh sangat berguna bagi keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini, dia bukan hanya menghisap madunya saja akan tetapi dia membantu proses penyerbukan kawin silang . Lebah punya 2 manfaat bagi manusia dan tumbuhan: 1. Membantu proses kawin silang antara tumbuhan satu dengan tumbuhan yang lainya sehingga menghasilkan buah yang bisa bermanfaat bagi manusia. 2. Lebah bisa menghasilkan madu untuk kesehatan manusia.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Day 5: Guilty Pleasure!!

By: Marcellina Dwi Kencana Putri

Getting lost in small street in Mussoorrie.

Getting lost in small street in Mussoorrie.

The first week of Agroecology and Organic Farming course in Bija Vidyapeeth has come to an end, since tomorrow we will having excursion and visit Masoouri and today we will finish the series of Agroecology class with different lectures and activities.

We were surprised to have fruit on our plate for today’s breakfast. One of our local favorites, jackfruit, served with apple, banana, and we also had this cereal made from millets mix with almond and milk. Farmer’s Breakfast was a good kick start for today’s activities.

Our morning ritual opened by a quote from “The Little Prince” book, my all time favorite book, followed by a song and dance moves from Lea who she adopted from Permaculture Course by Robyn Francis in Melbourne.

We divided into three groups to do morning work and each group work in three different fields. Kitchen, A-Z Garden and Rice Field. I did Kitchen on my first day and it reminds me of Piket, Class Clean Up when we still in elementary school, and surprisingly, those tradition was Gandhi teaching in India. While yesterday, I did weeding in rice field and although I had so much fun, I found out the cut from rice grass later on all over my hand. So I felt grateful to work in the A-Z Garden today, digging some garden bed, piled up some stone and collected leaves for making compost. This reminded me of Garden Day at IDEP, where we open our garden for public who wants to learn about Permaculture and do hands on practice gardening. Usually, children from school, families, or our regular Garden Day visitor will help us do seed saving, making garden bed, move seedling to garden bed, or harvesting veggies or fruit from the garden.

Importance of Pollinators book

Importance of Pollinators book in Navdanya seed bank

The Agroecology class was given by Dr. Vir Singh, whose a Professor in one of the first University in India who promote Green Revolution. In spite of all the pressured, he continue teaching about this ecological approach in Agriculture. He shared about “Thoughts on Agroecology and Philosophy of Food” which mostly based on philosophy of turning energy in the universe, into a form of food. Through the process of Light (Sun) in creating living organism (plants) through natural process (photosynthesis) and become the source of energy (food) for human being.

He also explained everything we need to know about Agroecology, from Function, Structure, and Principles. The terms of Agroecology is new for me and for some other participants. Agroecology can be define as a food production system using ecological approach, while the implementation using agro ecosystem that involving cultivated and uncultivated (forest, grassland) land by keeping the biodiversity, cycle of nutrients and treat soil as a living system rather than a substance. Through this approach, we seek for better food system which doesn’t damage and put pressure on the environment.

He linked the creation of living thing through LETH (Light Evolution Time Human) formula and emphasized the scientific reason behind this creation of human, animal and plant and interaction between each other.

We took a break and had a lunch full of nutritious veggies from Bija Vidyapeeth’s garden. Since we had different diet back in Indonesia, most of us had this belly issue and we felt gas inside and it makes us want to fart quite often! After making small research and questioned about this to other participants, it actually happened to our India friend as well, so all we need to do is just embrace it :p

My favorite part of our lunch meal is the dessert, after asking Kartikey, we found out that the dessert made from milk fat, butter, cinnamon and millets, which make it so tasty is actually the 50% fat in that dishes. What a guilty pleasure!

Class started again at 3 and we had a class on “Pollinators”, very important component when you talking about ecology based agriculture because pollinators do all your work to spreading new seeds, reproduction, etc. Most pollinators are insects, but there are also birds, bat, and other animal that help the pollination process. One thing we should know that one pollinators doesn’t do all the crops. Pollinators only pollinate for certain factors, such as color, scent, nectar & pollen, etc.

When we talk about pollinator, bees will become the most popular pollinators, not only because they produce honey that people see as an added value, but also because bees can be a very good example on how real pollinators work. Bees is the best navigator, and they also had this hair all over their abdomen and leg to help the polen (male) stick to it’s body, so when the bees fly and stop at certain flower, the polen will successfully landing on the female part of other plants.

Other fact that make bee become more popular is because they get threatened by the using of chemical pesticides, mobile tower radiation and other natural degradation which make number of bee is keep decreasing even until today. This could make a situation called “Cascading Effect”. It happen when certain plant vanish and this pollinators who only pollinate this plant will losing their source of food, and it’s continue until the top of food pyramids and lead into extinction.

Apart from that, we can help preserve this pollinators by grow native plants to keep the biodiversity of pollinators, hang hummingbird feeder or make a butterfly garden. It is also important to grow pollinator’s food in your garden so they won’t attack your cultivated crops while they still helping you to do the natural reproduction work. Preeti, one of the volunteer who taught about bees as a pollinator, also take us to the garden and showed us how the millets flower reproduce by open their petals and let the wind or natural pollinators took of the polen.

Chai tea is being made!

Chai tea is being made!

The class finished early and we got Chai Tea with some condiment to filled our tummy before the dinner. We had this jam session by Robi and Shanni, Dr. Av Singh’s daughter, who sing beautifully with her mandolin.

The Indonesian member also had a meeting and discussion about the last two days activities and how they felt about our farmer’s challenge and how to come up with solution for them. We hope that after finish this course and got back home, we can start to do some ‘grass roots’ and small scale solutions for each farmer all over Indonesia.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Hari Keempat: Filosofi Pangan dan Pertanian dalam Pembelajaran

Oleh: Dian Pratiwi Pribadi

Datang ke Bija Vidyapeeth, buatku serasa kembali ke masa 15-20 tahun yang lalu saat ‘mengambil hikmah’ di Fakultas Pertanian, serta 5-10 tahun yang lalu saat ‘tersesat di jalan yang benar’ bersama kawan-kawan aktivis pertanian. Aku belajar pertanian mulai dari hal-hal mendasar seperti biologi, sampai hal-hal teknis seperti budidaya tanaman dan cara membuat pestisida alami dalam lima hari pertama disini. Namun satu soal yang sangat mendasar tentang dunia pangan dan pertanian tidak kutemukan di Fakultas Pertanian. Soal itu adalah soal-soal filosofis, tentang kemanusiaan, tentang kebahagiaan, tentang kehidupan, dan tentang kedamaian seputar pangan dan pertanian. Bila di Fakultas Pertanian 20 tahun yang lalu ada Jurusan Tanah, Budidaya, Hama dan Penyakit, serta Sosial-Ekonomi, dan sekitar 10 tahun terakhir ada Jurusan Agribisnis dan Agroteknologi, disitu hampir tidak ada pembahasan soal-soal filosofis itu. Pembahasan hanya berkutat pada teori-teori dan praktek-praktek. Mengapa harus pakai teori itu, mengapa ada praktek seperti ini? Itu tidak ada. Bagiku, pembahasan menjadi dangkal dan nir makna.

Di Bija Vidyapeeth, pembahasan soal pertanian berangkat dari soal benih, tanah, dan air dalam rangka menuju kedaulatan pangan. Dan seluruh aspek tersebut berangkat dari skala rumah tangga, regional, negara, sampai skala universal yaitu bumi. Misalnya di hari keempat Kursus Agroekologi disini membahas tentang berbagai pola tanam seperti rotasi tanaman, penanaman sistem lorong, dan penanaman campuran, serta berbagai jenis tanaman penutup tanah dan bahan pestisida alami. Dalam setiap kesempatan di seluruh pembahasan, baik di awal, tengah maupun akhir, selalu disampaikan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati melalui pertanian organik. Bahwa suatu lahan dengan lebih banyak jenis tanaman akan mengalami lebih sedikit kerusakan oleh hama dan penyakit, karena itu artinya lahan tersebut telah seimbang secara ekologis, yang ujung-ujungnya juga lebih menguntungkan secara ekonomis.

Satu contoh nyata ditunjukkan oleh Joharipin, seorang petani ahli pemuliaan padi dari Indramayu, Jawa Barat. Mas Jo, begitu dia akrab dipanggil, selain ahli menyilangkan berbagai varietas padi, juga mengembangkan pertanian ekologis di lahannya. Di sawahnya, Mas Jo menerapkan minapadi sekaligus pertanian campuran dan rotasi tanaman. Tanaman padi sebagai tanaman utama ditanam setahun dua kali dirotasi dengan palawija, berada di tengah-tengah sawah seluas 0,5 hektar yang dikelilingi wilayah berair tanpa tanaman sebagai ruang bagi ikan berkembang biak, yang dikelilingi lagi oleh beberapa bedengan beragam jenis sayur mayur. Ikan menyediakan kotorannya untuk pupuk bagi tanaman disekitarnya, sedangkan serangga pemakan padi dan sayur mayur saling makan-memakan sehingga tercipta keseimbangan tanpa perlu dikendalikan oleh pestisida.

Aku bersama Luis dari Puerto Rico

Aku bersama Luis dari Puerto Rico

Kembali ke awal hari sebelum perkuliahan dimulai di Bija Vidyapeeth, selalu ada sesi Lingkaran Pagi dimana seluruh peserta berkumpul di ruang terbuka untuk menyiapkan diri mengikuti rangkaian sesi selanjutnya selama sehari. Sesi ini awalnya diisi dengan yoga atau meditasi selama sekitar dua menit, kemudian permainan yang keduanya bertujuan untuk menyegarkan hati dan pikiran. Bukannya tanpa tujuan sesi ini dilangsungkan, justru seringkali filosofi dari pangan dan pertanian disampaikan secara lebih menyenangkan dan mendalam. Adalah seorang kawan dari Puerto Rico, Meksiko, bernama Luis Enrique Gonzalez mengasuh sesi permainan di hari keempat ini. ‘The Golden Spiral’ atau Pilin Emas nama permainannya. Dari 56 peserta kursus yang membentuk lingkaran dipilih 10 orang dari berbagai wilayah untuk berdiri di tengah lingkaran untuk membentuk garis lurus sambil saling berpegangan tangan. Aku berada di ujung akhir garis, karena sedang mengandung. Ini merefleksikan tradisi kuno dimana benih tanaman melewati masa ke masa sehingga akhirnya punah dan menghilang. Kondisi ini juga bisa diartikan sebagai suatu ekosistem yang lemah dan rentan kehancuran dimana bila salah satu tangan dilepaskan, misalkan akibat perlakuan pestisida dan bahan-bahan kimia lainnya, maka rusaklah ekosistem itu. Sebuah garis dengan satu akhir itu berbahaya, sebab tanpa pertalian, tanpa akar, hingga menjadi mudah bagi pihak yang berniat buruk untuk masuk dan mengintervensi. Selanjutnya aku tetap berada di tengah sedangkan kawan-kawan lain saling bergandengan tangan membentuk sebuah pilin mengeliliku sampai keseluruh 56 orang masuk kedalam pilin emas dan Luis menjadi orang terakhir. Seluruh peserta merasa sangat takjub dengan proses pembentukan pilin ini sampai akhir terbentuknya. Kelihatannya tak satupun yang punya pengalaman mengikuti permainan ini, hingga hanya bisa tercengang. Aku sendiri sungguh merasa terharu berada ditengah-tengah pilin, serasa bagai matahari pusat tata surya, pusat alam semesta. Kondisi dimana tiap orang tiap waktu secara bersambungan saling terhubung, sulit terpisahkan, membentuk pilin dengan hatinya yang menyatu ditengah pusat pilin. Rasa haru dan takjub menggambarkan kebahagiaan dan kedamaian karena kami bersatu dalam kebersamaan. Pilin Emas secara mendasar menggambarkan sebuah ekosistem yang terhubung satu sama lain, sebuah sistem yang dinamis, terulang dan saling mendukung, baik manusianya maupun makhluk hidup lainnya. Inilah yang menjadi filosofi pangan dan pertanian sebagai pembelajaran kami disini.

Kebun A-Z setengah jadi hasil karya peserta Kursus Agroekologi membentuk logo Navdanya

Kebun A-Z setengah jadi hasil karya peserta Kursus Agroekologi membentuk logo Navdanya

Pasca sesi Lingkaran Pagi adalah sesi Shramdaan yang artinya kerja bakti. Aku yang berada di grup dua di hari keempat bertugas di Kebun A-Z, kebunnya para peserta Kursus Agroekologi yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk logo Navdanya, organisasi nirlaba penyelenggara kursus ini dimana Vandana Shiva direkturnya. Aku dan anggota grup lainnya membersihkan kebun dari rerumputan untuk persiapan tanam. Kerja bakti secara filosofis merupakan praktek sosial yang patut dilestarikan di komunitas manapun. Serupa dengan makna Pilin Emas, kerja bakti menggambarkan bahwa antar manusia tidak bisa lepas satu sama lain, begitu juga dengan lingkungannya, ada kebutuhan untuk saling menguntungkan dan menguatkan. Aku belum tahu bagaimana hasil akhir dari kebun ini. Yang terpenting adalah dalam kerja bakti juga terkandung filosofi yang semakna dengan pangan dan pertanian.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment